Monday, August 25, 2014

makalah fraktur

PENDAHULUAN
FRAKTUR
A.    Definisi
Fraktur adalah rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang yang disebabkan adanya ruda paksa yang timbul secara mendadak. Selain itu, fraktur juga dapat didefenisikan sebagai rusaknya kontinuitas tulang normal yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi.

B.     Klasifikasi Fraktur
Menurut Hardiyani (1998), fraktur dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.       Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, dan cruris dst).
2.       Berdasarkan luas dan garis fraktur terdiri dari :
a.       Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).
b.      Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
3.       Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :
a.       Fraktur kominit (garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan).
b.      Fraktur segmental (garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan).
c.       Fraktur Multipel ( garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan sebagainya).
4.       Berdasarkan posisi fragmen :
a.       Undisplaced (tidak bergeser) / garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser.
b.      Displaced (bergeser) / terjadi pergeseran fragmen fraktur
5.       Berdasarkan hubungan fraktur dengan dunia luar :
a.       Tertutup
b.      Terbuka (adanya perlukaan dikulit).
6.       Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma :
a.       Garis patah melintang.
b.      Oblik / miring.
c.       Spiral / melingkari tulang.
d.      Kompresi
e.       Avulsi / trauma tarikan atau insersi otot pada insersinya. Missal pada patela.
7.       Berdasarkan kedudukan tulangnya :
a.       Tidak adanya dislokasi.
b.      Adanya dislokasi
1)      At axim : membentuk sudut.
2)      At lotus : fragmen tulang berjauhan.
3)      At longitudinal : berjauhan memanjang.
4)      At lotus cum contractiosnum : berjauhan dan memendek.

C.     Etiologi
Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu :
a.       Fraktur akibat peristiwa trauma
Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan yang kuat langsung mengenai tulang, besar kemungkinan dapat menyebabkan fraktur pada tempat yang terkena dan jaringan lunak yang ada di sekitarnya pasti akan ikut rusak.
b.      Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
c.       Fraktur petologik karena kelemahan pada tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.

D.    Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Tapi, apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Ketika tulang patah, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematoma pada kanal medulla antara tepi tulang di bawah periosteum dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur.
Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotis adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cedera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematoma yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematoma menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan ujung saraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan Syndroma Comportement.

E.     Manifestasi klinis
1.      Nyeri terus-menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema.
2.      Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
3.      Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur.
4.      Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
5.      Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

F.      Pemeriksaan penunjang
1.      Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur untuk menentukan lokasi, luasnya.
2.      Pemeriksaan jumlah darah lengkap.
3.      Arteriografi dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.

G.    Penanganan Fraktur
Penanganan fraktur disesuaikan dengan lokasi fraktur. Ada beberapa penanganan fraktur, yaitu :
1.      Reduksi
Meskipun terapi umum dan resusitasi harus selalu didahulukan, tidak boleh ada keterlambatan Fraktur yang melibatkan permukaan sendi ini harus di reduksi sempurna mungkin karna setiap ketidakberesan akan memudahkan timbulnya arthritis degenerative. Terdapat dua metode reduksi; tertutup dan terbuka.
2.      Mempertahankan reduksi
Metode  yang tersedia untuk mempertahankan reduksi adalah:
a.     traksi terus-menerus;
b.     pembebatan dengan gips:
c.     fiksasi internal; dan
d.     fiksasi eksternal.
H.    Komplikasi
Secara umum, komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi antara lain :
1)       Komplikasi awal
a)      Kerusakan Arteri
b)      Compartement Syndrom
c)      Fat Embolism Syndrom
d)     Infeksi
e)      Avaskuler Nekrosis
f)       Shock
2)       Komplikasi dalam waktu lama
a)      Delayed Union
b)      Non Union
c)      Mal Union




I.       Penyimpangan KDM fraktur
Description: kdm fraktur.JPG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR
A.    Pengkajian
Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi :
1.      Aktivitas/istirahat
Tanda  : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)
2.      Sirkulasi
Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)
3.      Neurosensori
Gejala  :   Hilang gerak/sensasi,spasme otot, Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda : Demormitas local, angulasi abnormal, pemendakan, krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).
4.      Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.
5.      Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan lokal.
Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
6.      Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Lingkungan cedera
Pertimbangan :  DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/ pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit.

B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien Fraktur menurut Doenges (2000) antara lain :
1.      Nyeri berhubungan dengan spasme otot, edema dan cedera pada jaringan lunak.
2.      Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.
3.      Resiko tinggi terhadap disfungsi terhadap disfungsi neurovaskuler prifer berhubungan dengan  penurunan atau intrupsi aliran darah, edema berlebihan, hipovolemia.
4.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak.
5.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler.
6.      Kerusakan integrasi jaringan kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup.
7.      Kurang pengetahuan terhadap  kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang paparan informasi.
Dari diagnosa di atas dapat diprioritaskan sebagai berikut :
1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, immobilisasi, stress, ansietas.
2.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler : nyeri ketidaknyamanan, terapi restriktif, immobilisasi tungkai.
3.      Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer; kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan.

C.     Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Rasional
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, immobilisasi, stress, ansietas.
Kriteria hasil : menunjukkan tindakan santai; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat.
Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapiutik sesuai tindakan untuk situasi individual.
·    Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
·    Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.

·    Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamana, perhatikan lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas (skala 0-10). Perhatikan pertunjuk nyeri nonverbal (perubahan tanda vital dan emosi/perilaku).
·    Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh pijatan, perubahan posisi.

·    Dorong menggunakan teknik manajemen stres, contoh relaksasi otot progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi.






·    Identifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk usia pasien, kemampuan fisik, dan penampilan pribadi.



·    Kolaborasi
Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuai kebutuhan.
Berikan obat sesuai indikasi : narkotik dan analgesik non narkotik; NSAID injeksi contoh ketorolac, relaksan otot, contoh siklobenzaprin.
·    Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang cedera.
·    Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
·    Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi, tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau reaksi terhadap nyeri.


·    Meningkatkan sirkulasi umum, menurunkan area tekanan lokal, dan kelelahan otot.
·    Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol, dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lebih lama.
·    Mencegah kebosanan, menurunkan tegangan, dan dapat meningkatkan kekuatan otot; dapat meningkatkan harga diri dan kemampuan koping.
·    Menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
Diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau spasme otot.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler : nyeri ketidaknyamanan, terapi restriktif, immobilisasi tungkai.
Kriteria hasil : meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
Mempertahankan posisi fungsional.
Meningkatkan kekuatan / fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.
Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
·      Kaji derajat mobilitas yang dihasilkan oleh cedera / pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.



·      Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik / rekreasi. Pertahankan rangsangan lingkungan, contoh radio, tv, koran, kunjungan teman / keluarga.

·      Instruksikan / bantu pasien untuk dalam rentang gerak pasien atau aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.



·      Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan trokanter / tangan yang sesuai.



·      Berikan / bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat sesegera mungkin. Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
·      Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri / persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi / intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
·      Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri / harga diri, dan membantu menurunkan isolasi sosial.
·      Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah atrofi.
·      Berguna untuk mempertahankan posisi fungsional ekstremitas, tangan/kaki, dan mencegah komplikasi.
·      Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara menggunakan alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan keamanan pasien.
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer; kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan.
Kriteria hasil : mencapai penywmbuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.
·    Inspeksi pen/kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.
·    Kaji sisi kulit, perhatikan keluhan peningkatan nyeri / rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/bau tidak enak.
·    Berikan perawatan pen / kawat steril sesuai protokol dan latihan mencuci tangan.
·    Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit.
·    Kaji tonus otot, refleks tendon dan kemampuan berbicara.
·    Lakukan prosedur isolasi.
·    Kolaborasi
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : darah lengkap, LED, kultur dan sensitivitas luka, scan radioisotop.
Berikan obat sesuai indikasi, contoh : antibiotik IV, tetanus toksoid.
Berikan irigasi luka / tulang dan berikan sabun basah / hangat sesuai indikasi.
·      Pen / kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan, atau abrasi (dapat menimbulkan infeksi tulang).
·      Dapat mengindikasikan timbulnya infeksi lokal / nekrosis jaringan, yang dapat menimbulkan osteomielitis.
·      Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi.
·      Tanda perkiraan infeksi gas gangren.
·      Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, dan disfagia menunjukkan terjadinya tetanus.
·      Adanya drainase purulen akan memerlukan kewaspadaan luka / linen untuk mencegah kontaminasi silang.
·      Anemia dapat terjadi pada osteomielitis ; leukositosis biasanya ada dengan proses infeksi.
·      Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.
·      Debridemen lokal / pembersihan luka menurunkan mikroorganisme dan insiden infeksi sistemik.





No comments:

Post a Comment