Tuesday, August 26, 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Keluarga Berencana
1.      Pengertian Keluarga Berencana
          Keluarga berencana menurut World Health Organization (WHO) Expert Commite (1970) dalam Suratun (2008) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan atau mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
          Menurut Anggraini (2012), keluarga berencana adalah sebagai upaya untuk peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia, suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi serta tindakan yang membantu individu, pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
          Menurut Suratun (2008), Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan merupakan suatu hal yang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi.
2.      Tujuan Keluarga Berencana
          Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat/angka kematian ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas (Sujiyantini, 2011).
          Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan sosial ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan lainnya meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Hal ini sesuai dengan teori pembangunan menurut Alex Inkeles dan David Smith yang mengatakan bahwa pembangunan bukan sekedar perkara pemasok modal dan teknologi saja tapi juga membutuhkan sesuatu yang mampu mengembangkan sarana yang beorientasi pada masa sekarang dan masa depan, memiliki kesanggupan untuk merancanakan, dan percaya bahwa manusia dapat mengubah alam, bukan sebaliknya (Sulistyawati, 2012).
          Tujuan demografi program yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan menurunkan angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2.87 menjadi 2.69 per wanita. Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan kesengsaraan dan menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan dengan jumlah penduduk. Hal ini diperkuat dengan teori Malthus (1766-1834) yang menyatakan bahwa pertumbuhan manusia cenderung mengikuti deret ukur, sedangkan pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung (Suratun, 2008).
3.      Manfaat Keluarga Berencana
          Manfaat keluarga berencana yakni, dapat menyelamatkan kehidupan perempuan serta meningkatkan status kesehatan ibu, terutama dalam mencegah kehamilan yang tak diinginkan, menjarangkan jarak kehamilan, mengurangi risiko kematian bayi. Selain sumber keuntungan ekonomi pada pasangan suami istri, keluarga, masyarakat, keluarga berencana juga membantu remaja mengambil keputusan lebih memilih kehidupan yang lebih baik dengan merencanakan proses reproduksinya (BKKBN, 2008).
4.      Visi Keluarga Berencana
          Keluarga berencana ini memiliki visi untuk mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Ynag Maha Esa (Sarwono, 2005).
          Visi Keluarga Berencana Nasional adalah mewujudkan “Keluarga Berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehaat, mandiri, memiliki anak yang ideal, brwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saifuddin, 2010).
5.      Sasaran Keluarga Berencana
a.       Sasaran program KB menurut Suratun (2008) :
1)  Sasaran Langsung
a)      Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15-49 tahun, karena kelompok ini merupakan pasangan aktif melakukan hubungan seksual dapat mengkibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif sehingga memmberi efek langsung penurunan fertilisasi.
2)  Sasaran Tidak Lngsung
a)      Kelompok remaja usia 15-19 tahun, remaja ini memang bukan merupakan target untuk menggunakan alat kontrsepsi secara langsung tetapi merupakan kelompok yang beresiko untuk melakukan hubungan seksual akibat telah berfungsinya alat-alat reproduksinya. Sehingga program KB disini lebih berupaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta kejadian aborsi.
b)      Organisasi-organisasi, lembaga kemasyarakatan serta instansi pemerintah maupun swasta serta tokoh masyarakat dan pemuka agama yang diharapakkan dapat memberikan dukungan dalam melembagakan NKKBS.
6.      Dampak Program KB Terhadap Pencegahan Kelahiran
          Menurut Handayani (2010), dampak program KB terhadap pencegahan kelahiran adalah sebagai berikut:
a.       Untuk ibu, dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran maka manfaatnya:
1)      Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang berulang kali dan terlalu pendek.
2)      Peningkatan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak, beristitahat, dan menikmati waktu luang serta melakukan kegiatan lainnya.
b.      Untuk anak-anak yang dilahirkan, manfaatnya:
1)      Anak dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya dalam keadaan sehat.
2)      Sesudah lahir, anak mendapatkan perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup karena kehadiran anak tersebut memang diinginkan dan direncanakan.
c.       Untuk anak-anak yang lain, manfaatnya:
1)      Memberi kesempatan kepada anak agar perkembangan fisiknya lebih baik, karena setiap anak memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia dalam keluarga.
2)      Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena pemeliharaan lebih baik dan lebih banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak.
3)      Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena sumber-sumber pendapatan keluarga tidak habis untuk keluarganya.
d.      Untuk ayah, memberi kesempatan kepadanya agar dapat:
1)      Memperbaiki kesehatan fisiknya.
2)      Memperbaiki kesehatan mental, fisik, sosial setiap anggota keluarga tergantung dari kesehatan seluruh keluarga mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk memperoleh pendidikan.
B.     Kontrasepsi
1.      Pengertian
          Kontrasepsi berasal dari kata”kontra” yang artinya melawan dan “konsepsi” artinya pembuahan. Jadi kontrasepsi berarti mencegah bertemunya sperma dengan ovum, sehingga tidak terjadi pembuahan yang mengakibatkan kehamilan (Irianto, 2010).
          Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang aktif melakukan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 2008).
          Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara dapat juga bersifat permanen (Prawirohardjo, 2008).
2.      Akseptor KB
          Akseptor KB adalah pasangan usia subur dimana salah seorang menggunakan salah satu cara/alat untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik melalui program maupun non program (Abdul Ghofur, 2012)
          Akseptor KB adalah anggota masyarakat yang mengikuti gerakan KB dengan melaksanakan pengguanaan alat kontrasepsi (Dwijayanti, 2005).
3.      Jenis Kontrasepsi
a.       Kontrasepsi Sementara
         Pencegahan kehamilan yang bersifat sementara, bila kontrasepsi tidak dilakukan maka dapat terjadi kehamilan, kontrasepsi yang bersifat sementara dapat dilakukan dengan tidak menggunakan alat bantu dan menggunakan alat bantu (Irianto, 2010).
b.      Kontrasepsi Permanen (Sterilisasi)
Pemotongan dan pengikatan saluran kelamin pada pria (vas differens) maupun wanita (oviduk), akibatnya sperma yang dihasilkan oleh testis dan ovum yang dihasilkan dari ovarium tidak dapat dikeluarkan (Irianto, 2010).
4.      Macam Jenis Metode Kontrasepsi
        Metode kontrasepsi dapat dikelompokkan menjadi enam macam menurut Uliyah (2010), antara lain adalah:
a.       Metode perintang
         Metode ini bekerja dengan cara menghalangi pertemuan antara sel sperma dengan sel telur ketika melakukan hubungan seksual (merintangi pembuahan). Diantaranya:
1)  Kondom.
2)  Spermisida.
3)  Diafragma.
4)  Topi serviks.
5)  Topi kubah.
6)  Vimula.
7)  Spons kontrasepsi vagina.
8)  Tipe baru pesarium vagina.

b.      Metode Hormonal
1)  Pil KB.
2)  Susuk/implan.
3)  Suntik KB.
c.       Metode Intra Uterine Device (IUD)/Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR).
d.      Metode Operasi (sterilisasi)
1)  MOW (Metode Operasi Wanita).
2)  MOP (Metode Operasi Pria).
e.       Metode Alami
1)  Metode kalender.
2)  MAL (Metode Amenore Laktasi).
3)  Metode pengecekan lendir serviks.
4)  Monitor kesuburan pribadi.
5)  Metode ASI eksklusif.
6)  Metode simtotermal.
7)  Metode indeks multiple.
f.       Metode Darurat
         Metode darurat adalah cara untuk menghindari kehamilan setelah terlanjur melakukan hubungan seksual tanpa pelindung.
5.      Syarat metode kontrsepsi
          Syarat yang dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik menurut Hartono (2004) adalah :
a.       Aman/tidak berbahaya.
b.      Dapat diandalkan.
c.       Sederhana, sedapat-dapatnya tidak usah dikerjakan oleh seorang dokter.
d.      Murah.
e.       Dapat diterima oleh orang banyak.
f.       Pemakaian jangka lama.
6.      Akseptabilitas
          Aksepibilitas suatu cara kontrasepsi ditentukan beberapa faktor, menurut (Prawirohardjo, 2008), faktor-faktor tersebut anata lain :
a.       Dapat dipercaya.
b.      Tidak ada efek samping atau hanya ada efek samping ringan.
c.       Tidak mempengaruhi koitus.
d.      Mudah penggunaannya.
e.       Harga obat/kontrasepsi terjangkau.
7.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi
          Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi (Hartono, 2004). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi seorang menggunakan kontrasepsi, diantaranya adalah :
a.       Faktor Pasangan
1)  Umur.
2)  Gaya hidup.
3)  Frekuensi senggama.
4)  Jumlah keluarga yang diinginkan.
5)  Pengalaman dengan kontrasepsi  yang lalu.
6)  Sikap kewanitaan.
7)  Sikap kepriaan.
b.      Faktor Kesehatan
1)  Status kesehatan.
2)  Riwayat haid.
3)  Riwayat keluarga.
4)  Pemeriksaan fisik.
5)  Pemeriksaan panggul.
c.       Faktor Metode Kontrasepsi
1)  Efektivitas.
2)  Efek samping minor.
3)  Kerugian.
4)  Komplikasi-komplikasi yang potensial.
5)  Biaya.
C.    Metode Amenore Laktasi
1.      Pengertian MAL
          Menurut Sifuddin (2006) Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun lainnya.
          Menurut Varney (2006), MAL adalah suatu metode kontrasepsi dengan cara memberikan ASI kepada bayinya secara penuh.
2.      Cara Kerja MAL
Menurut Anggraini (2010) cara kerja MAL adalah:
        Proses menyusui dapat menjadi metode kontrasepsi alami karena hisapan bayi pada puting susu dan areola akan merangsang ujung-ujung saraf sensorik, rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus, hipotalmus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin. Hormon prolaktin akan meramgsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk memproduksi susu.
        Bersamaan dengan pembentukan prolaktin, rangsangan yang berasal dari isapan bayi akan ada yang dilanjutkan ke hipofise anterior yang kemudian dikeluarkan oksitosin melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadilah proses involusi. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan merangsang kontraksi dari sel akan memeras ASI yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang selanjutnya mengalirkan melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi
Menurut Hidayati (2009) cara kerja MAL adalah:
        Konsentrasi prolaktin meningkat sebagai respons terhadap stimulus pengisapan berulang ketika menyusui. Dengan intensitas dan frekuensi yang cukup, kadar prolaktin akan tetap tinggi. Hormon proklaktin yang merangsang produksi ASI juga mengurangi kadar LH (Luteinizing Hormon) yang diperlukan untuk memelihara dan melangsungkan siklus menstruasi.
        Kadar Prolaktin yang tinggi menyebabkan ovarium menjadi kurang senisitf terhadap perangsangan gonadotropin yang memang sudah rendah dengan akibat timbulnya inaktivasi ovarium, kadar esterogen yang rendah, dan an-ovulasi. Bahkan pada saat aktivitas ovarium mulai pulih kembali, kadar prolaktin yang tinggi menyebabkan fase luteal yang singkat dan fertilitas menurun. Jadi intinya cafra kerja Metode Amenore Laktasi (MAL) ini adalah dengan penundaan atau penekanan ovulasi.
3.      Keuntungan dan Keterbatasan MAL
          Metode Amenore Laktasi (MAL) mempunyai keuntungan dan keterbatasan, adapun keuntungan dan keterbatasan menurut Sujiyatini dan Arum (2009) sebagai berikut :
a.       Keuntungan
1)  Keuntungan Kontrasepsi
a)      Efektivitas tinggi (keberhasilan 98%, pada enam bulan pascapersalinan).
b)      Segera efektif.
c)      Tidak mengganggu senggama.
d)     Tidak ada efek samping secara sistematik.
e)      Tidak perlu pengawasan medis.
f)       Tidak perlu obat atau alat.
g)      Tanpa biaya.
2)  Keuntungan Nonkontrasepsi
a)      Untuk Bayi
1)      Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan perlindungan lewat ASI).
2)      Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang optimal.
3)      Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu lain atau formula atau alat minum yang dipakai.
b)      Untuk Ibu
1)      Mengurangi perdarahan persalinan.
2)      Mengurangi resiko anemia.
3)      Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi.
b.      Keterbatasan Metode Amenore Laktasi :
1)      Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui dalam 30 menit pasca persalianan.
2)      Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
3)      Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV/ dan HIV/AIDS.


4.      Indikasi dan Kontraindikasi MAL
          Indikasi dan kontraindikasi MAL menurut Sujiyanti dan Arum, (2009) sebagai berikut :
a.       Indikasi MAL yaitu ibu yang menyusui secara eksklusif, bayinya berumur kurang dari enam bulan, dan belum mendapat haid setelah melahirkan.
b.      Kontraindikasi kontrasepsi MAL, yaitu :
1)      Sudah mendapat haid setelah bersalin.
2)      Tidak menyusui secara eksklusif.
3)      Bayinya sudah berumur ≥ 6 bulan.
4)      Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam.
5.      Hal yang disampaikan kepada Ibu nifas
          Hal yang disampaikan kepada Ibu Nifas menrut Saifuddin, (2006) sebagai berikut :
a.       Seberapa sering harus menyusui
Bayi yang disusui secara on demand (menurut kebutuhan bayi). Biarkan bayi menyelesaikan menghisap dari satu payudara sebelum memberikan payudara lain, supaya bayi mendapat cukup banyak susu akhir (hind milk). Bayi hanya membutuhkan seedikit ASI dari payudara berikut atau sama sekali memerlukan lagi. Ibu dapat memulai dengan memberikan payudara memproduksi banyak susu.
b.      Waktu antara 2 pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
c.       Biarkan bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepaskan hisapannya.
d.      Susui bayi juga pada malam hari karena menyusui waktu malam membantu mempertahankan kecukupan persediaaan ASI.
e.       Bayi terus disusukan walau ibu/bayi sedang sakit.
f.       ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
g.      Kapan mulai memberikan makanan padat sebagai makanan pendamping ASI. Selama bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan berat badan cukup, bayi tidak memerlukan makanan selain ASI sampai dengan umur 6 bulan, (berat badan naik sesuai umur, sebulan BB naik minimal 0,5 kg, ngompol sedikitnya 6 kali sehari).
h.      Apabila ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan lain, bayi akan menghisap kurang sering dan akibatnya menyusui tidak lagi efektif sebagai metode kontrasepsi.
i.        Haid
Ketika ibu mulai haid lagi, itu pertanda ibu sudah subur kembali dan harus segera menggunakan metode KB lainnnya.
D.    Manajemen Kebidanan
1.      Pengertian
        Manajemen Kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh Bidan dalam metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Hidayat dan Mufdillah, 2009).
2.      Proses Manajemen Kebidanan
        Menurut Varney dalam Wildan dan Hidayat (2011) proses Manajemen Kebidanan terdiri atas 7 langkah, yaitu sebagai berikut:
a.    Pengumpulan data dasar
   Menurut Varney, data dapat dikumpulkan dari beberapa sumber yang dapat memberikan informasi paling akurat yang dapat diperoleh secepat mungkin dan upaya sekecil mungkin. Pasien adalah sumber informasi paling akurat dan ekonomi, disebut sumber data primer. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan pemeriksaan. Observasi adalah pengumpulan data melalui penglihatan, perilaku, tanda fisik, kecacatan, ekspresi wajah, perabaan suhu badan, dll. Wawancara dilakukan pada pertemuan tatap muka. Dalam wawancara yang perlu diperhatikan adalah data yang ditanyakan dilihat ke data yang relavan. Pemeriksaan dilakukan dengan memakai instrument atau alat pengukur. Misalnya tinggi badan dengan meteran, berat badan dengan timbangan, tekanan darah dengan tensimeter.
       Secara garis besar diklasifikasikan menjadi data subjektif dan data objektif. Pada waktu Bidan mengumpulkan data subjektif yang efektif dengan pasien diwawancarai, lebih diperhatikan hal-hal yang menjadi keluhan utama pasien dan kecemasannya, berupaya untuk mendapatkan data/fakta yang sangat bermakna dalam kaitannya dengan masalah pasien. Pada pengumpulan data objektif Bidan harus mengamati ekspresi dan perilaku pasien, perubahan dan kelainan fisik, menggunakan teknik pemeriksaan terarah dan   berkaitan dengan keluhan pasien.
b.      Interpretasi data dasar 
        Menurut Varney, pada langkah ini dilakukan identifikasi yang   benar terhadap diagnosa, masalah, atau kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
        Langkah awal dari perumusan masalah atau diagnosa kebidanan pengolahan atau analisa data yang menggabungkan dan menghubungkan data satu dan yang lainnya hingga tergambar fakta. Dalam asuhan kebidanan kata masalah dan diagnosa keduanya dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosa tetap perlu dipertimbangkan untuk membuat suatu rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana akseptor mengalami kenyataan terhadap diagnosa.
c.       Identifikasi diagnosis atau masalah potensial
Menurut Varney, pada langkah ini beberapa hasil dari interpretasi data dasar dapt digunakan dalam mengidentifikasi masalh atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.
d.      Identifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Menurut Varney, pada langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien.
e.       Perencanaan asuhan secara menyeluruh
Menurut Varney, pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau antisipasi, pada langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dilengkapi.
f.       Pelaksanaan perencanaan
Menurut Varney, pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara efesien dan aman. Manajemen yang efesien akan menyingkat waktu, biaya, dan meningkatkan asuhan.
g.      Evaluasi
Menurut Varney, pada langkah ke-7 ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana yang telah diidentifikasikan di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.
3.      Pendokumentasian Manajemen Kebidanan dengan Metode SOAP
        Menurut  Faiz dan Moffat (2003), dokumentasi adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien dan tim kesehatan tentang hasil pemeriksaan, prosedur tindakan, pengobatan pada pasien, pendidikan pasien, dan respon pasien terhadap semua asuhan yang telah diberikan.
        Faiz dan Moffat (2003), juga mengungkapkan pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian mengenai asuhan yang telah dan akan dilakukan pada seorang pasien, didalamnya tersirat proses berfikir Bidan yang sistematis dalam menghadapi seorang pasien sesuai langkah-langkah manajemen kebidanan. Pendokumentasian manjemen kebidanan dapat diterapkan dengan metode SOAP. Metode SOAP merupakan catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan singkat. Adapun penjelasan dari metode SOAP adalah sebagai berikut.
a.       S (Data Subjektif)
Data subjektif merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Hellen Varney langkah pertama (pengkajian data) terutama data yang diperoleh melalui anamnesis. Data subjektif ini berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai keluhan dan kekhawatiran dan keluhannya  sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan langsung dengan diagnosis. Data subjektif ini nantinya akan menguatkan diagnosis yang akan disusun
b.      O (Data Objektif)
Data objektif merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Hellen Varney pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh melalui pemriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan diagnostic lain. Catatan medic dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat dimasukkan ke dalam data objektif ini. Data ini akan memberikan bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
c.       Assasment
Assasment merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi atau kesimpulan dari data subjektif dan data objektif. Dalam pendokumentasian manajemen kebidanan, karena keadaan pasien yang setiap saat bisa saja mengalami perubahan dan akan ditemukan informasi baru dalam data subjektif dan objektif, maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis. Assasment merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Vallen Varney, langkah kedua, ketiga, dan keempat sehingga mencakup beberapa hal berikut ini: diagnosis/masalah kebidanan, diagnosis/masalah potensial. Kebutuhan tindakan segera harus segera harus diidentifikasi menurut kewenangan Bidan, meliputi: tindakan mandiri, tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk klien.
d.      P (Planning)
         Planning adalah membuat rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan kebidanan disusun berdasarkan hasil analisis data dan interpretasi data.  Rencana asuhan ini bertujuan untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan kesejahteraannya. Rencana asuhan ini harus bisa mencapai kriteria tujuan yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu. Tindakan yang mampu membantu pasien mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan hasil kolaborasi tenaga kesehatan lain.
         Meskipun secara istilah P adalah Planning/Perencanaan saja, namun P dalam metode SOAP ini juga merupakan gambaran pendokumentasian Implementasi dan Evaluasi. Dengan kata lain P dalam SOAP meliputi pendokumentasian menurut Hellen Varney langkah kelima, keenam dan ketujuh. Pendokumentasian P dalam SOAP ini adalah pelaksanaan asuhan yang telah disusun sesuai dengan keadaan  dan dalam rangka mengatasi masalah pasien. Pelaksanaan harus disetujui oleh pasien.
       Dalam planning ini juga harus mencantumkan evaluasi, yaitu tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil untuk menilai efektifitas asuhan/hasil pelaksaan tindakan. Evaluasi berisi analiasis hasil yang telah dicaapai dan merupakan fokus ketepatan nilai/tindakan asuhan. Jika kriteria tujuan tidak tercapai, proses evaluasi ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan tindakan alternatif sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Untuk mendokumentasikan proses evaluasi ini, diperlukan sebuah catatan perkembangan, dengan tetap mengacu pada metode SOAP.

































No comments:

Post a Comment